14/06/06

Tahun 2026 Orangutan di Kaltim Punah

Samarinda (14/6). Hampir punahnya keberadaan Orangutan di Kaltim dibedah dalam acara “Membedah Orangutan: Bedah Buku dan Penyusunan Rencana Aksi Penyelamatan Orangutan dan Habitatnya di Kalimantan Timur” yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan PPHT Unmul, hari ini (14/6). Acara hari pertama dari rangkaian acara yang akan berlangsung hingga besok, menghadirkan pembicara Erik Meijaard yang juga merupakan salah seorang dari penulis buku “Diambang Kepunahan”, serta menghadirkan pembahas Korrie Layun Rampan, Sri Suci Utami dan Suryo Adiwibowo.

“Populasi orangutan yang tersisa penting untuk dipetakan secara akurat, serta orangutan memerlukan hutan khusus yang tidak dapat dikonversi menjadi lahan non-hutan maupun perkebunan dan harus menjadi bagian integral di dalam perencanaan tata ruang propinsi”, papar Erik Meijaard. Jenis subspecies Kaltim yang unik ini terancam punah dan dapat punah dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, akibat pengrusakan hutan dan perburuan.

Perlindungan orangutan yang efektif memerlukan kerjasama, sinergi kelembagaan dan dukungan politik dari pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten-kota. Ditambahkannya, keberhasilan penyelamatan orangutan akan ditentukan oleh kepastian sistem dan dukungan pendanaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Korrie Layun Rampan menyampaikan bahwa konkretisasi lamin yang merupakan pusat kehidupan yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan adalah dengan wujud penetapan wilayah oleh hukum adat terhadap norma hutan sebagai sumber kehidupan. “Ada kesepakatan sosial anatara masyarakat lamin yang dikuatkan hukum adat, bahwa peruntuhan tanah dan hutan disesuaikan dengan kodifikasi nenek moyang”, ujar Korrie, sastrawan Indonesia, yang juga merupakan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat.

Sementara, Soeryo Adiwibowo dari Fakultas Ekologi Manusia IPB Mengomentari buku “Diambang Kepunahan” dari sisi politik konservasi dan membedah secara horisontal. “Penulis nampaknya pernah mengalami kekecewaan atau memiliki pengalaman buruk dengan masyarakat adat” ujar Soeryo. Beliau menambahkan buku tersebut juga menggambarkan diskursus konservasi, yaitu antara konservasi jenis dan konservasi keanekaragaman hayati, serta antara perlindungan penuh kawasan konservasi dan pengentasan kemiskinan.

Acara yang dilaksanakan oleh PPHT Unmul bekerjasama dengan Ornop dan perusahaan di Kaltim ini akan berlangsung hingga besok (15/6). Di sekitar ruang pertemuan juga digelar pameran kegiatan konservasi yang diikuti oleh BKSDA Kaltim, Balai TNK, BOSF, TropenBos Indonesia, TNC Kaltim, BEBSiC, MAPFLOFA dan PPHT Unmul. [selesai]

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

1. Dr Chandra Boer, 0812 580 7234

2. Rustam Fahmy MP, 0812 580 3065

Posted by at 07:06:23 | Permanent Link | Comments (0) |

11/06/06

Membedah Orangutan: Penyusunan Rencana Aksi Penyelamatan Orangutan dan Habitatnya di Kaltim

Samarinda (11/6). Kondisi terakhir Orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan Timur sangat mengkhawatirkan. Habitatnya telah rusak akibat penebangan hutan yang tidak terkendali, kebakaran hutan, konversi areal hutan bahkan perburuan dan perdagangan Orangutan. Melihat kondisi tersebut, Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman (PPHT Unmul) bekerja sama dengan TropenBos Indonesia, Mapflofa Fahutan Unmul, WWF Indonesia, The Nature Conservancy, BEBSiC, BOSF, PT KPC, dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Kaltim (BKSDA Kaltim) akan menyelenggarakan acara “MEMBEDAH ORANGUTAN” yang terdiri dari acara Bedah Buku Orangutan Diambang Kepunahan (Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke-21) dan Lokakarya Penyusunan Rencana Aksi Orangutan dan Habitatnya di Kalimantan Timur. Acara akan dilaksanakan di Ruang Pertemuan PPHT Unmul Kampus Gunung Kelua Samarinda pada hari Rabu – Kamis tanggal 14-15 Juni 2006.

Buku berjudul “Orangutan Diambang Kepunahan” yang ditulis oleh Erik Meijaard dan H. D. Rijksen adalah buku yang sangat menarik. Buku setebal 300 halaman, yang bercerita secara rinci mengenai Orangutan di Sumatera maupun di Kalimantan, menjadi penting dibedah dikarenakan masih sangat sedikit pihak yang tertarik untuk membaca buku tersebut. Dari kegiatan bedah buku tersebut diharapkan terjadinya penyebaran informasi hasil-hasil penelitian ke berbagai pihak, termasuk para pengambil keputusan di tingkat pusat dan daerah.

Selain bedah buku, akan dilaksanakan lokakarya untuk menyusun rencana aksi penyelamatan Orangutan, khususnya pertama kali di Kaltim. Lokakarya ini menjadi penting dikarenakan semakin tingginya ancaman terhadap keberadaan Orangutan, khususnya di Kaltim. Semakin banyak Orangutan yang keluar dari habitatnya dan telah pula menjadi masalah besar dalam pelepasliarannya kembali ke alam. Permasalahan konservasi sumberdaya alam harus mendapat perhatian ekstra baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Acara bedah buku akan dimoderatori oleh Dr Chandra Boer (Peneliti, PPHT/Pusrehut Unmul) dengan pembicara Dr Erik Meijaard (penulis buku dan peneliti TNC) dan pembahas aspek strategi dan politik konservasi, Dr Suryo Adiwibowa (pakar politik konservasi IPB), aspek budaya dan agama, Korrie Layun Rampan (budayawan), serta aspek biologi, Dr Sri Suci Utami (peneliti, BOSF). Pada hari kedua akan dihadirkan pembicara Ir Arman Malolongan (Dirjen PHKA Departemen Kehutanan), Rondang Siregar, M.Phil (peneliti Orangutan Sumatera, Conservation International), Dr. Ir. Aldrianto Priadjati (Ketua Harian BOSF) dengan moderator Ade Fadli (BEBSiC).

Bedah Buku Orangutan Diambang Kepunahan dapat dihadiri oleh masyarakat yang tertarik dengan menghubungi panitia pelaksana di Gedung PPHT Unmul di nomor telepon 0541-741421. Panitia juga mengundang pihak perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, legislatif, kelompok masyarakat dan mahasiswa. Diperkirakan acara dua hari ini akan dihadiri oleh 120 orang peserta. [selesai]


Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

1. Chandra Boer, 0541-741421, 0812 580 7234

2. Rustam, 0812 580 3065, rtf[at]telkom.net


Posted by at 23:21:42 | Permanent Link | Comments (0) |

[DEPHUT] Siaran Pers mengenai Orangutan

Siaran Pers Dephut berkaitan Orangutan:

  1. Pemulangan Orangutan Sumatera dari Malaysia - 26 Desember 2005
  2. Konservasi dan Pengembalian/Repatriasi Orangutan dari Thailand - 26 April 2006
Posted by at 22:00:49 | Permanent Link | Comments (0) |

Kasih Ibu Orangutan

Inilah satu pelajaran “berarti” yang saya ambil dari perjalanan pembuatan film dokumentasi orangutan di Sumatera beberapa pekan yang lalu. Dimulai dari Bahorok (Pusat Rehabilitasi Orangutan) Sumatera Utara sampai ke Ketambe (Pusat Penelitian Orangutan) Aceh Tenggara, satu hal yang saya temui dan saya sangat kagumi dari orangutan : The Caring & Loving Motherhood Sensitivity. Luar biasa seekor orangutan betina dengan penuh kesetiaan dan penuh pengabdian mengurusi bayi orangutan mulai dari memberi makan, mengajarkan cara untuk membuat rumah orangutan sampai melindungi bayi ini dari ancaman-ancaman yang mungkin sewaktu-waktu dapat menyerang kehidupan bayi orangutan ini.

[Lihat lebih lengkap di: Angelina Sondakh

Posted by at 11:58:45 | Permanent Link | Comments (0) |

Pemerintah Putuskan Hubungan Kerjasama Dengan Gibbon Foundation

Departemen Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam telah memutuskan hubungan kerjasama dengan Gibbon Foundation yang dituangkan dalam surat Direktur Jenderal PHKA No. S 417/IV-KKH/2006 tanggal 19 April 2006. Pemutusan hubungan kerjasama ini dilakukan karena kerjasama kemitraan yang telah dijalin sejak 8 Agustus 2002 tersebut telah menyimpang dari kesepakatan semula. Dalam perkembangannya, Direktorat Jenderal PHKA melihat adanya kegiatan-kegiatan, sikap dan berbagai komentar Gibbon Foundation yang sudah melampaui batas-batas ruang lingkup kerjasama. Kondisi seperti ini telah menyebabkan timbulnya kesenjangan komunikasi antara Ditjen PHKA dan Gibbon Foundation. Bahkan timbul saling tidak percaya dan tidak menghargai antara kedua belah pihak. Disamping itu, Ditjen PHKA juga melihat Gibbon Foundation melakukan tindakan di luar wewenangnya sebagai mitra kerja, seperti melakukan fungsi pengawasan, bahkan mengawasi Ditjen PHKA.

 

[lihat lebih lengkap di: SIARAN PERS No. : S.287/II/PIK-1/2006

Posted by at 11:57:03 | Permanent Link | Comments (0) |

Satwa: Sebuah Etalase Bisnis

Oleh: Ade Fadli - Komunitas Timpakul (www.timpakul.or.id)

SATWA liar, telah dua dekade terakhir menjadi sebuah isu yang selalu diangkat oleh lembaga konservasi internasional yang bekerja di Indonesia. Orangutan, Gajah, hingga Harimau Sumatera, merupakan sebuah icon permasalahan konservasi dan kelestarian lingkungan. Sementara, dari tahun ke tahun tingkat pengrusakan hutan bukan semakin berkurang, malah semakin meningkat.

Tidak kurang dari 4,1 juta hektar hutan, yang merupakan wilayah kehidupan komunitas lokal dan satwa, setiap tahunnya mengalami kerusakan. Bencana banjir, longsor dan kekeringan merupakan salah satu akibat langsung yang dirasakan manusia di sekitarnya.PROGRAM pelestarian satwa semakin meningkat disaat pandangan masyarakat dunia dapat dipengaruhi dengan kegenitan dan lucunya seekor satwa.

Sebagian besar lembaga yang bekerja di isu konservasi pun kemudian menggunakan satwa sebagai icon kegiatan. Menarik perhatian publik, utamanya negara utara, dilakukan dengan melakukan promosi (kampanye) satwa.Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Beruang madu (Helarctus malayanus) merupakan dua ikon satwa yang selalu dibawa dalam setiap aktivitas kampanye maupun penggalangan dana di negara utara, agar lembaga konservasi dapat tetap bekerja untuk isu konservasi.

[Lebih lengkap di: Tribun Kaltim]
Posted by at 11:54:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Antara Orangutan, Dephut, dan Yayasan Gibbon

Oleh: Chandra Boer - Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT/Pusrehut) Universitas Mulawarman

 

APA istilah lingkungan hidup bagi Orangutan atau kebanyakan satwa liar lainnya? Jawabannya adalah habitat. Tapi kata habitat sudah begitu populernya, sehingga kata itu banyak dipakai dalam hiruk pikuk perkotaan.Benar saja, karena kalau kita perhatikan, sebagian satwa liar telah bermunculan ke jalan-jalan kota, seperti Kijang, Panther, Kuda dan beberapa lainnya.

HANYA Orangutan saja yang belum turun gunung, karena habitatnya memang bukan di perkotaan tapi di tengah hutan. Juga bukan di jalan-jalan kota, tapi pada kanopi tajuk hutan yang sambung menyambung.Dan kelihatannya, mereka memang tidak bisa hidup berdampingan dengan kebanyakan "orang kehutanan", apa boleh buat? Habitat yang berupa hutan tropis dataran rendah sudah semakin sedikit yang tersisa sebagai akibat penebangan, konversi, dan bencana kebakaran hutan.

 

[Lebih lengkap di: Tribun Kaltim]


Posted by at 11:50:56 | Permanent Link | Comments (0) |